Seputar Kontroversi Uji Signifikansi Hipotesis Nihil
Oleh : Dicky Hastartjo | Download Artikel |

Orang yang awam statistika mungkin sedikit tersentak membaca alenia awal tulisan ini. Tertulis komentar seorang pakar yang melihat bahwa kebiasaan para peneliti psikologi melalui uji hipotesis nihil adalah bentuk kebuntuan metodologis. Tertulis juga komentar pakar yang lain bahwa pengujian hipotesis nihil hampir selalu menghasilkan keputusan yang salah. Peneliti awam tidak perlu berkecil hati, karena itu adalah salah satu pertarungan konsep metodologis yang sudah biasa dalam pengembangan sains. Tulisan ini mengetengahkan polemik antar pakar statistika dalam membahas pengujian hippotesis nihil. Pengujian signifikansi hipotesis nihil dapat dikatakan menjadi metode utama analisis data dalam ilmu sosial. Keberadaan teknik pengujian tersebut kemudian mengundang perdebatan antar pakar statistika. Perdebatan tersebut dapat dikatakan cukup seru karena tulisan dan komentar yang diungkapkan cukup provokatif, sehingga APA turun tangan untuk mengatasi perdebatan ini. Pada tulisan ini, penulis memberikan komentar perdebatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh APA. Rekomendasi yang dijelaskan ini merupakan referensi penting bagi peneliti yang akan melakukan penelitian kuantitatif (wy)

Pengujian Hipotesis Nihil: Uji Signifikansi dan Interval Kepercayaan
Oleh : Djemari Mardapi | Download Artikel |

Melalui artikel ini penulis menjelaskan dua strategi menguji hipotesis, yaitu uji signifikansi (taksiran titik) dan interval kepercayaan (taksiran interval). Dimulai dari membedah konsep kedua jenis uji, penulis kemudian membandingkan kelebihan dan kekurangan kedua strategi. Meski memiliki sejumlah kekurangan uji signifikansi lebih masih populer dibanding interval kepercayaan karena lebih sederhana dalam penerapannya. Untuk mengatasi ini penulis menawarkan beberapa solusi, seperti melengkapi dengan uji signifikansi secara praktis, penambahan ukuran efek, melaporkan interval kepercayaan yang mencakup nilai parameter atau memperbanyak cuplikan pengambilan data. Tulisan ini akan meningkatkan pemahaman praktis bagi peneliti yang melakukan penelitian kuantitatif (wy).

Keterbatasan Uji Signifikansi Hipotesis Nol
Oleh : Nonny Swediati dan Bastari | Download Artikel |

Keputusan peneliti yang serta-merta menolak hipotesis nol jika menemukan hasil uji statistik dengan p<0,05, dianggap sebagaian pakar langkah yang gegabah. Uji signifikansi tersebut meski telah melahirkan konsep-konsep penting dalam penelitian psikologi masih menuai sejumlah kritik yang menyentuh kelemahan uji tersebut. Di alenia awal artikel ini, penulis menjelaskan beberapa kelemahan uji signifikansi secara mendetail. Salah satu kelemahan yang diangkat oleh peneliti adalah kelemahan dalam scientific inference, misalnya kesalahan peneliti yang menganggap bahwa nilai p menunjukkan hipotesis nol itu benar. Tidak hanya memaparkan kelemahannya saja, penulis juga memberikan upaya untuk mengatasi kelemahan uji signifikansi melalui beberapa rekomendasi. Misalnya, melibatkan interval konfidensi serta beberapa rekomendasi lainnya. Di akhir tulisannya penulis mengusulkan bahwa peneliti perlu menyesuaikan dengan perkembangan statistika yang mulai melibatkan pengujian signifikansi tidak hanya signifikansi hipotesis nol, tetapi juga signifikansi secara praktis (wy).

TEMA : UJI ASUMSI DALAM STATISTIKA

Isu Uji Asumsi
Sutrisno Hadi  [download artikel]

Isu mengenai Uji Asumsi timbul karena dalam banyak ujian skripsi maupun tesis sering ditanyakan oleh para mahasiswa maupun para pembimbing mengenai perlu tidaknya dilakukan uji asumsi sebelum suatu model analisis parametrik diiterapkan. Sebaran normal, misalnya, merupakan asumsi dari hampir semua model analisis statistik, kecuali statistik nonparametrik yang tidak dikait-kaitkan dengan bentuk sebaran (distribution free). Homogenitas variansi adalah asumsi dari semua analisis perbandingan antar kelompok (uji-t, analisis variansi, analisis kovariansi), sekali lagi juga tidak berlaku untuk statistik nonparametrik. Untuk model-model analisis korelatif terdapat agak banyak asumsi, seperti linieritas hubungan antara semua variabel bebas X dengan variabel terikat Y; nirkolinieritas hubungan antara sesama variabel bebas X; dan homosedastisitas dari sebaran variabel Xi Untuk analisis kovariansi, karena merupakan gabungan dari analisis komparatif dan analisis korelatif, asumsi-asumsinya merupakan kumulasi dari analisis komparatif dan analisis korelatif: normalitas sebaran variabel terikat, homogenitas variansi antara kelompok- kelompok yang dibandingkan, linieritas antara semua variabel bebas X dengan variabel terikat Y, dan nirkolinieritas hubungan antara semua kovariabel X.

Kontroversi Uji Asumsi dalam Statistik Parametrik
Asmadi Alsa [download artikel]

Berdasar ada-tidaknya asumsi yang mendasari suatu uji statistik, terdapat dua jenis statistik inferensial, yaitu statistik parametrik dan statistik non-parametrik. Statistik non-parametrik atau statistik bebas sebaran (distribution free) sekalipun mudah untuk dimengerti dan relatif sederhana perhitungannya, namun ia memiliki test-power yang rendah. Hal ini terjadi karena statistik non-parametrik selain tidak menggunakan asumsi-asumsi yang mendasari, juga hanya dirancang untuk data nominal dan ordinal, yang diketahui tingkat kecermatannya lebih rendah dibandingkan data interval dan rasio. Harap dicatat bahwa apabila alat pengumpul data dalam penelitian dapat memperoleh data yang gejalanya interval atau rasio, jangan mengubah atau mengkonversikan data tersebut menjadi data nominal atau ordinal, karena ha1 itu akan menurunkan kecermatan kesimpulannya. Namun sebagai konsekuensinya peneliti hams menggunakan analisis data melalui statistik parametrik, yang didasari oleh asumsi-asumsi tertentu. Sehingga persoalan yang dapat muncul kemudian adalah, bagaimana kalau asumsi-asumsi tersebut tidak dapat ciipenuhi atau dilanggar?

Asumsi-asumsi dalam Inferensi Statistika
Saifuddin Azwar [download artikel]

Berbeda dari statistika nonparametrik yang disebut dengan distribution-free statistics atau disebut juga statistika sampel kecil, statistika parametrik diderivasi dari model distribusi normal atau distribusi-distribusi skor populasi tertentu. Di samping itu, rumusan tehnik-tehnik komputasi guna pengambilan kesimpulan (inferensi) lewat uji statistika parametrik didasarkan pada model distribusi yang diketahui, sehingga penggunaannya pun dilandasi oleh berlakunya asumsi bahwa ada kesesuaian antara data sampel dengan model distribusi yang bersangkutan (data-model fit). Kekhawatiran bahwa data sampel tidak terdistribusi mengikuti model data populasi yang diasumsikan atau tidak memenuhi kondisi yang disyaratkan bagi penggunaan tehnik komputasi tertentu menyebabkan banyak para peneliti sosial pemakai statistika melakukan lebih dahulu pengujian asumsi sebelum melakukan uji hipotesis. Pada hampir semua skripsi S1, thesis S2, dan bahkan disertasi S3 psikologi dapat kita temui laporan hasil berbagai uji asumsi yang dilakukan sebelum pengujian hipotesisnya sehingga terdapat kesan kuat sekali bahwa uji asumsi merupakan prasyarat dan bagian yang tak terpisahkan yang mendahului analisis data penelitian. Kepanikan terjadi apabila hasil uji asumsi ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Perlukah Uji Asumsi Statistik Dilakukan
Nonny Swediati [download artikel]

Jawaban judul di atas “tergantung pada metode statistik yang digunakan dan tujuan dari penelitian itu sendiri”. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan kembali kepada kita bahwa statistik hanya salah satu alat bantu untuk menganalisa data dan kemudian hasilnya dapat digunakan untuk membuat kesimpulan-kesimpulan tentang hubungan ataupun kaitan antar variabel yang sedang kita teliti. Perbedaan antara teori dan praktek dalam statistik seringkali menimbulkan perbedaan antara para ahli statistik dan praktisi (statistics user) yang tidak ada hentinya. Ahli statistik lebih banyak mengacu pada teori, sedangkan praktisi lebih mengacu pada penggunaannya. Sebagai contoh, satu kaki seseorang berada di atas kompor yang menyala dan satu kaki lainnya berada di atas batu es, dan dari kasus tersebut ditanyakan bagaimana rata-rata rasanya? Jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada ahli statistik yang teoritis, maka jawabannya “kita uji dulu asumsiasumsi yang berlaku untuk menganalisis data tersebut”. Sebaliknya, jawaban dari orang-orang pengguna statistik (praktisi) mungkin saja terasa sedang-sedang saja, dan mungkin juga ada yang menjawab “sulit didiskripsikan”. Dari kasus sederhana tersebut, hendaknya kita (pengguna statistik) perlu bijak untuk menentukan model statistik apakah yang tepat untuk dapat digunakan menyelesaikan suatu permasalahan dan memahami konsep-konsep dibalik metode yang kita pakai.

Kasus Regresi: Ikut-Ikutan Menghakimi Asumsi Dan Mempertanyakan Uji Signifikansi
Soetarlinah Sukadji [download artikel]

Tidak semua masyarakat penggemar penelitian kuantitatif, memiliki pengetahuan sempurna mengenai matematika yang mendasari statistika. Banyak peneliti, termasuk penulis sendiri, adalah orang-orang yang tidak canggung menggunakan statistika meski hanya sebagai a true believer, yaitu penganut setia pendapat pakar-pakar statistika. Walau begitu, kita dapat menggunakan kemampuan reading comprehension dan logika kita, untuk merunut pikiran pakar-pakar tersebut: apakah benar logikanya, dan apakah terbukti pada hasil olahan data observasi atau simulasi. Saya termasuk penganut setia Kang Nurija J. Norusis (ISPSS Inc). Ia telah memperkaya kehidupan saya (melalui projek-projek penelitian dan kesempatan menggurui orang lain), dan memberi fasilitas (SPSS) sehingga kehidupan saya dalam dunia penelitian dan bimbingan skripsi-tesis-disertasi menjadi nyaman.

PENGEMBANGAN PENGUKURAN PSIKOLOGI

Reliabilitas Dan Validitas Aitem
Saifuddin Azwar [download artikel]

Pada Buletin Psikologi yang lalu telah diketengahkan artikel mengenai salah-satu prosedur analisis aitem dan penggunaannya dalam seleksi aitem untuk penyusunan suatu skala psikologi (Azwar, 1994). Parameter aitem yang dipakai sebagai kriteria pemilahan aitem, yang dijelaskan dalam artikel tersebut, adalah koefisien korelasi antara skor setiap aitem dengan skor total tes atau skala – biasa disebut korelasi aitem-total – baik yang belum dikoreksi maupun yang telah dikoreksi dari efek spurious overlap. Koefisien korelasi aitem-total ini sering disalahartikan sebagai koefisien validitas aitem, padahal validitas aitem memiliki pengertian yang sama sekali berbeda. Koefisien korelasi aitem-total tidak memberikan informasi mengenai validitas aitem tetapi memberikan informasi mengenai konsistensi antara apa yang diukur oleh aitem dengan apa yang diukur oleh tes. Aitem-aitem yang berkorelasi tinggi dengan skor total berarti memiliki kesesuaian tujuan ukur dengan tes. Kesesgaian tujuan ukur antara aitem dengan tes ini tidak menjamin apakah tes tersebut memang mengukur apa yang ingin diukur (valid) dikarenakan validitas menghendaki adanya suatu kriteria lain. Oleh karena itu, sekalipun korelasi aitem-total pada kesemua aitem sudah baik, masih diperlukan pengujian validitas tes,. Tulisan ini diharapkan berguna sebagai suatu klarifikasi mengenai pengertian reliabilitas dan validitas aitem.

Kelompok Subjek ini Memiliki Harga Diri yang Rendah, Kok, Tahu
Saifuddin Azwar [download artikel]

Perkembangan teknologi komputer memiliki kontribusi yang sangat besar dalam meningkatkan sofistikasitehnik analisiskuantitatif yang digunakan dalam berbagai penelitian.
Kalau pada dekade 70an para peneliti di Indonesia mash banyak yang mengandalkan kalkulator tangan (yang juga belum secanggih kalkulator generasi kini), maka pada dekade 80an
komputer telah menjadi partner akrab bagi para peneliti. Kalau sarnpai pada dekade 70an tehnik analisis statistika yang digunakan umumnya masih sangat terbatas pada tehnik-tehnik yang
sederhana seperti kwelasi linier sederhana, kai-kuadrat, dan t-test maka pada saat ini bahkan para mahasiswa S1 pun telah menggunakan tehnik-tehnik anggun seperti regresi ganda, analisis
diskriminan, analisis faktor, dan tehnik-tehnikmultivariat lainnya 

 

2 Responses to Artikel Buletin Psikologi

  1. Dewi says:

    saya mau bertanya pak, apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kepercayaan diri antara perempuan dengan laki laki dan tidak ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian sosial. bila ada, mohon bantuannya…. terima kasih pak

    • Wahyu Widhiarso says:

      Dewi.. Saya belum pernah meneliti tentang kepercayaan diri.
      Coba cek di google.. saya lihat sekilas, ada yang menemukan beda signifikan akan tetapi dengan catatan bedanya (gap) kecil.
      KLIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.